Lifestyle Berkuda & Fashion Equestrian: Hobi Sultan atau Tren?
Tren Gaya Hidup Equestrian: Fashion dan Wisata Berkuda
brickerperformanceponies – Pernahkah Anda menggulir laman Instagram atau TikTok akhir-akhir ini dan merasa seolah-olah sedang melihat katalog majalah Ralph Lauren berjalan? Anda melihat selebritas tanah air atau influencer favorit berpose gagah di atas punggung kuda, mengenakan sepatu bot kulit setinggi lutut, celana ketat berwarna krem, dan helm beludru yang tampak mahal. Seketika, aura elegan dan berkelas terpancar dari foto tersebut.
Fenomena ini bukan kebetulan semata. Dalam beberapa tahun terakhir, lifestyle berkuda telah bertransformasi. Jika dulu olahraga ini dianggap eksklusif milik keluarga kerajaan atau konglomerat “Sultan” yang memiliki lahan berhektar-hektar, kini berkuda telah menjadi bagian dari gaya hidup urban yang aspirasional. Bukan hanya soal olahraga, ini adalah tentang estetika, status sosial, dan pelarian sejenak dari hiruk-pikuk kota.
Namun, apakah tren ini hanya sekadar ajang pamer foto Outfit of the Day (OOTD) demi validasi media sosial, atau memang ada manfaat substansial di baliknya? Mari kita bedah lebih dalam bagaimana fashion equestrian dan wisata berkuda mengubah cara kita menikmati akhir pekan.
Lebih dari Sekadar Olahraga: Simbol “Old Money”
Ketika kita bicara soal lifestyle berkuda, kita tidak bisa melepaskannya dari citra Old Money atau Quiet Luxury. Berbeda dengan tren streetwear yang penuh logo mencolok, gaya equestrian menawarkan kemewahan yang sunyi.
Secara historis, berkuda adalah hobi para bangsawan Eropa. Citra inilah yang kemudian diadopsi oleh budaya pop modern. Saat seseorang mengenakan perlengkapan berkuda, secara tidak sadar mereka sedang memproyeksikan citra disiplin, keberanian, dan tentu saja, kemampuan finansial.
Fakta menariknya, lonjakan minat ini juga didorong oleh drama seri populer seperti Bridgerton atau The Crown, yang meromantisasi kehidupan berkuda. Orang tidak lagi melihat kuda sekadar hewan tunggangan, melainkan mitra dalam membangun personal branding yang elegan. Bagi kaum urban Jakarta atau Surabaya, menghabiskan sabtu pagi di istal (stable) kini lebih bergengsi daripada sekadar ngopi di kafe Jakarta Selatan.
Fashion Equestrian: Bukan Sekadar Kostum
Bagi orang awam, mungkin terlihat bahwa semua penunggang kuda berpakaian sama. Padahal, fashion equestrian adalah perpaduan rumit antara fungsi keselamatan dan estetika. Anda tidak bisa sembarangan memakai celana jeans dan sepatu kets lalu berharap bisa memacu kuda dengan nyaman.
Pakaian berkuda dirancang dengan tujuan teknis. Misalnya, celana berkuda atau breeches dirancang tanpa jahitan di bagian dalam paha untuk mencegah lecet akibat gesekan dengan pelana (sadel). Bahannya pun elastis namun kuat. Lalu ada sepatu bot (riding boots). Bukan sekadar agar terlihat keren, bot ini memiliki hak (heels) khusus sekitar 2-3 cm yang berfungsi mengunci kaki di sanggurdi (stirrup) agar tidak tergelincir saat kuda berlari kencang.
Jika Anda ingin mencoba gaya ini tanpa terlihat seperti “poser”, kuncinya adalah fit atau ukuran yang pas. Fashion equestrian tidak mentolerir pakaian kedodoran karena bisa tersangkut di peralatan kuda. Warna-warna bumi (earth tones) seperti beige, cokelat, hitam, dan navy adalah palet wajib. Jadi, ketika Anda melihat seseorang tampil memukau di atas kuda, ingatlah bahwa busana mereka adalah safety gear yang kebetulan terlihat sangat modis.
Mitos “Duduk Doang”: Fisik yang Diuji
Ada sebuah lelucon umum yang sering dilontarkan para skeptis: “Ah, berkuda kan gampang, kudanya yang lari, orangnya cuma duduk.” Jika Anda berpikir demikian, cobalah naik kuda selama 45 menit, dan besok paginya, Anda mungkin akan kesulitan bangun dari tempat tidur.
Faktanya, lifestyle berkuda adalah salah satu olahraga yang membakar kalori secara masif. Menurut studi kesehatan olahraga, menunggang kuda santai saja bisa membakar sekitar 200-300 kalori per jam. Jika masuk ke level trot atau canter (berlari kecil hingga cepat), angkanya bisa melonjak hingga 500 kalori.
Kunci dari berkuda adalah keseimbangan (balance). Otot inti (core muscle), paha dalam, dan punggung Anda bekerja keras secara konstan untuk menjaga postur tubuh tetap tegak dan mengikuti ritme gerakan kuda. Ini adalah olahraga full-body workout yang tersembunyi di balik tampilan yang tenang. Jadi, di balik foto-foto estetik di Instagram, ada keringat dan otot yang bekerja keras.
Terapi Mental di Balik Pelana
Selain fisik, daya tarik utama yang membuat orang rela menempuh macet ke daerah pinggiran kota untuk berkuda adalah aspek psikologisnya. Interaksi dengan kuda memiliki efek terapeutik yang luar biasa.
Kuda adalah hewan yang sangat sensitif terhadap emosi manusia. Mereka bisa merasakan jika penunggangnya gugup, marah, atau takut. Untuk bisa mengendalikan kuda, Anda harus belajar mengendalikan emosi diri sendiri terlebih dahulu. Anda dipaksa untuk hadir di momen itu (mindful). Anda tidak bisa bermain HP atau memikirkan deadline pekerjaan saat berada di atas hewan seberat 500 kilogram.
Koneksi non-verbal ini memberikan ketenangan batin yang sulit didapat di gym konvensional. Tak heran jika banyak eksekutif muda yang beralih ke hobi ini sebagai bentuk stress release atau healing.
Wisata Berkuda: Hobi Mahal yang Kian Terjangkau?
Dulu, untuk bisa berkuda, Anda harus menjadi anggota klub eksklusif dengan biaya keanggotaan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Namun, seiring menjamurnya tren lifestyle berkuda, kini muncul banyak tempat wisata berkuda (public stable) yang menawarkan sistem pay-per-visit.
Di kawasan sekitar Jakarta seperti Depok, Sentul, Gunung Putri, hingga Tangerang, kini bertebaran sekolah berkuda yang ramah pemula. Dengan biaya mulai dari Rp250.000 hingga Rp500.000 per sesi (biasanya 45 menit), siapa saja bisa merasakan sensasi menjadi joki tanpa harus membeli kuda sendiri (yang biaya perawatannya setara cicilan mobil).
Konsep “wisata berkuda” ini membuka pintu bagi keluarga. Anak-anak bisa belajar pony riding, sementara orang tua mengambil kelas intensif atau sekadar joy ride keliling kebun. Fasilitasnya pun kini lengkap, seringkali digabung dengan kafe estetik yang menghadap langsung ke arena pacuan, menyempurnakan pengalaman fashion equestrian Anda dengan latar foto yang sempurna.
Etika dan Keselamatan: Jangan Hanya Demi Konten
Satu hal yang perlu diingat—dan ini mungkin sedikit “sentilan” bagi para pemburu konten—adalah bahwa kuda adalah makhluk hidup, bukan properti foto.
Tren fashion equestrian yang meledak di media sosial kadang membuat pemula lupa akan etika dasar. Jangan pernah mendekati kuda dari belakang tanpa peringatan, jangan berteriak-teriak di area istal, dan jangan memaksakan pose yang membuat kuda tidak nyaman demi sebuah foto.
Menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm berstandar SNI atau internasional adalah harga mati. Jatuh dari kuda bukanlah hal sepele. Instruktur yang baik akan selalu memprioritaskan keselamatan di atas estetika. Jadi, jika instruktur menegur Anda karena cara memegang tali kekang salah saat berfoto, dengarkanlah. Itu demi keselamatan Anda dan kudanya.
Pada akhirnya, tren lifestyle berkuda adalah fenomena positif yang menghidupkan kembali apresiasi kita terhadap aktivitas luar ruang dan interaksi dengan hewan. Perpaduan antara tantangan fisik, ketenangan mental, dan estetika fashion equestrian menjadikan hobi ini paket lengkap bagi manusia modern yang mencari keseimbangan hidup.
Jadi, apakah Anda siap untuk menukar sepatu lari Anda dengan sepatu bot kulit akhir pekan ini? Cobalah sekali, bukan hanya untuk konten media sosial, tapi untuk merasakan sensasi kebebasan saat berpacu melawan angin. Siapa tahu, di balik pelana kuda, Anda menemukan hobi baru yang mengubah hidup Anda.


