jenis kuda indonesia
Lifestyle

5 Jenis Kuda Populer di Indonesia: Sandel hingga Thoroughbred

5 Jenis Kuda Paling Populer di Indonesia: Dari Sandel hingga Thoroughbred

brickerperformanceponies – Pernahkah Anda duduk di atas delman saat masih kecil, mendengar suara tapak kaki tak-tik-tuk yang berirama di atas aspal, dan bertanya-tanya: “Kuda jenis apa ya ini?” Atau mungkin, Anda pernah melihat tayangan pacuan kuda di televisi, di mana kuda-kuda jangkung berlari secepat kilat dengan joki yang membungkuk aerodinamis di punggungnya?

Dunia perkudaan di Indonesia itu unik. Kita memiliki sejarah panjang hidup berdampingan dengan hewan gagah ini, bukan hanya sebagai alat transportasi di masa lampau, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan gengsi. Dari sabana kering di Nusa Tenggara hingga istal-istal mewah di pinggiran Jakarta, Indonesia adalah rumah bagi keragaman ras kuda yang mengejutkan.

Namun, seiring berkembangnya olahraga berkuda (equestrian dan pacuan), istilah-istilah asing mulai masuk ke telinga kita. Kita tidak lagi hanya bicara soal kuda poni yang lucu, tapi juga tentang mesin balap bernyawa yang disebut kuda thoroughbred. Artikel ini akan mengajak Anda bertualang mengenal kekayaan hayati jenis kuda indonesia dan bagaimana ras impor mengubah wajah olahraga berkuda di tanah air.

jenis kuda indonesia
jenis kuda indonesia

1. Kuda Sandel (Sandalwood): Si Cantik dari Sumba yang Pandai Menari

Jika ada kontes kecantikan untuk kuda asli Nusantara, Kuda Sandel—atau sering disebut Sandalwood Pony—pasti menjadi pemenangnya. Namanya diambil dari kayu cendana (sandalwood) yang merupakan komoditas ekspor utama pulau Sumba di masa lampau.

Bayangkan seekor kuda dengan tubuh yang kompak, tidak terlalu tinggi (biasanya sekitar 120-130 cm), namun memiliki proporsi tubuh yang sangat “kuda”, menyerupai versi miniatur dari kuda balap Arab. Keistimewaan utama Sandel bukan hanya pada penampilannya yang elok dengan surai tebal, tetapi pada temperamennya. Mereka dikenal memiliki daya tahan luar biasa namun cukup jinak untuk ditunggangi anak-anak.

Di Sumba, kuda ini adalah jiwa masyarakat. Sebuah fakta menarik: Kuda Sandel sering dilatih untuk “menari” dalam upacara adat, di mana lonceng-lonceng (giring-giring) dipasang di kaki mereka. Irama langkah kaki mereka yang unik membuat Sandel menjadi salah satu jenis kuda indonesia yang paling banyak dijadikan indukan untuk disilangkan, demi memperbaiki genetika kuda lokal lainnya.

2. Kuda Sumbawa: Petarung Tangguh di Lahan Kering

Bergeser sedikit ke pulau tetangga, kita bertemu dengan saudara dekat Sandel, yaitu Kuda Sumbawa. Sepintas, orang awam mungkin sulit membedakan keduanya. Namun, jika Anda perhatikan lebih jeli, Kuda Sumbawa memiliki postur yang sedikit lebih “kasar” dan kekar dibandingkan Sandel yang elegan.

Kuda Sumbawa dibentuk oleh alam. Hidup di daerah yang kering dan tandus memaksa mereka berevolusi menjadi hewan yang sangat efisien dalam penggunaan energi. Mereka mungkin tidak secepat kilat, tapi daya tahan (endurance) mereka legendaris.

Satu hal yang membuat Kuda Sumbawa ikonik adalah tradisi “Joki Cilik” atau Maen Jaran. Di sini, kuda-kuda ini dipacu tanpa pelana oleh anak-anak kecil. Kekuatan punggung dan kaki Kuda Sumbawa yang kokoh menjadikannya fondasi penting dalam populasi kuda nasional. Bagi para peternak, darah Sumbawa adalah jaminan ketahanan fisik yang anti-manja.

3. Kuda Minahasa: Warisan Kolonial di Sulawesi Utara

Berbeda dengan kuda-kuda di Nusa Tenggara yang hidup semi-liar di sabana, sejarah Kuda Minahasa sangat erat kaitannya dengan masa kolonial Belanda dan tradisi pacuan yang sudah mapan di Sulawesi Utara. Sejak abad ke-19, wilayah ini telah menjadi pusat pembibitan kuda yang serius.

Kuda Minahasa asli sebenarnya sudah sulit ditemukan murninya karena sejarah panjang persilangan. Pada masa lalu, pejantan-pejantan dari luar didatangkan untuk meningkatkan postur kuda lokal. Hasilnya adalah kuda dengan tinggi badan yang sedikit lebih menjulang dibanding kuda Jawa atau Sumbawa.

Masyarakat Minahasa dikenal “gila bola” dan “gila kuda”. Antusiasme mereka terhadap pacuan kuda membuat genetika kuda di wilayah ini terus dikembangkan. Kuda Minahasa menjadi bukti bahwa jenis kuda indonesia tidak statis; mereka terus berevolusi melalui seleksi alam dan campur tangan manusia yang menginginkan kecepatan.

4. Kuda Thoroughbred: Sang Atlet Impor Penguasa Lintasan

Nah, inilah “game changer” dalam industri berkuda modern. Ketika berbicara tentang pacuan kuda profesional atau olahraga ketangkasan (show jumping dan dressage) tingkat tinggi, nama kuda thoroughbred adalah rajanya.

Thoroughbred bukanlah kuda asli Indonesia. Ras ini dikembangkan di Inggris pada abad ke-17 dan 18 dengan menyilangkan kuda lokal Inggris dengan pejantan Arab, Barb, dan Turkoman. Hasilnya? Seekor “monster” kecepatan. Ciri fisiknya sangat khas: tubuh tinggi besar (bisa mencapai 160-170 cm), leher panjang yang elegan, dada bidang yang dalam (untuk menampung paru-paru besar), dan kaki yang ramping namun kuat.

Di Indonesia, kuda thoroughbred murni biasanya dimiliki oleh klub-klub berkuda elit atau Pordasi (Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia) untuk keperluan pembibitan dan kompetisi kelas atas. Mengapa mereka begitu spesial? Karena mereka memiliki apa yang disebut “hot blood”—semangat kompetisi yang berapi-api. Mereka cepat, responsif, tapi juga bisa sangat sensitif dan temperamental. Merawat Thoroughbred di iklim tropis Indonesia adalah tantangan tersendiri; mereka butuh pakan berkualitas tinggi, kandang ber-AC atau sirkulasi udara maksimal, dan perawatan kesehatan yang jauh lebih intensif dibanding kuda lokal yang tahan banting.

5. Kuda Pacu Indonesia (KPI): Perkawinan Timur dan Barat

Apa jadinya jika ketangguhan Kuda Sandel atau Sumbawa dikawinkan dengan kecepatan dan postur kuda thoroughbred? Lahirlah apa yang kini kita kenal sebagai Kuda Pacu Indonesia (KPI) atau sering disebut kuda G (Generasi).

Ini adalah inovasi brilian dari para peternak Indonesia. Mereka sadar bahwa mendatangkan Thoroughbred murni (impor) itu mahal dan perawatannya sulit. Solusinya adalah cross-breeding.

  • G1 (Generasi 1): Hasil kawin pejantan Thoroughbred dengan induk lokal (Sandel/Sumbawa). Anaknya akan lebih tinggi dari ibunya, tapi lebih tahan iklim tropis dibanding bapaknya.

  • G2, G3, dst: Kuda G1 dikawinkan lagi dengan Thoroughbred, menghasilkan keturunan yang semakin tinggi dan semakin mirip Thoroughbred secara fisik, namun tetap memiliki jejak DNA lokal.

Inilah wajah jenis kuda indonesia masa kini yang Anda lihat di arena pacuan Pulomas atau Tegal Waton. Mereka tinggi, gagah, dan kencang, namun di dalam darahnya masih mengalir warisan ketangguhan kuda-kuda Sumba yang legendaris. Kuda jenis ini membuktikan bahwa kita bisa menciptakan ras unggul sendiri dengan memanfaatkan genetika terbaik dari dua dunia.

Tips Bagi Pemula: Memilih Kuda yang Tepat

Setelah mengenal berbagai jenis di atas, mungkin Anda mulai berandai-andai untuk memiliki atau sekadar belajar menunggang kuda. Kuda mana yang cocok untuk Anda?

Jika tujuan Anda adalah leisure riding atau wisata santai, kuda jenis Sandel atau persilangan lokal adalah pilihan terbaik. Mereka lebih tenang, tidak mudah kaget, dan “memaafkan” kesalahan penunggang pemula. Biaya perawatannya pun relatif ramah di kantong karena mereka tidak rewel soal pakan.

Namun, jika ambisi Anda adalah prestasi di arena show jumping atau pacuan, mau tidak mau Anda akan berurusan dengan darah kuda thoroughbred atau minimal peranakan G3/G4. Siapkan mental dan finansial, karena merawat kuda tipe ini ibarat merawat mobil sport; performanya tinggi, tapi butuh perhatian ekstra detail.

Kesimpulan

Indonesia adalah surga bagi keanekaragaman kuda yang sering kali tidak kita sadari. Dari Kuda Sandel yang menari indah di Sumba hingga derap langkah kuda thoroughbred yang memacu adrenalin di arena balap ibu kota, setiap jenis memiliki peran dan pesonanya masing-masing.

Mengenal jenis kuda indonesia bukan hanya soal menghafal nama ras, tapi juga menghargai sejarah bagaimana nenek moyang kita beradaptasi dengan alam, dan bagaimana kita kini berinovasi menciptakan kuda pacu modern. Jadi, akhir pekan ini, mengapa tidak mencoba berkunjung ke istal terdekat atau menonton latihan pacuan? Siapa tahu, Anda akan menemukan koneksi batin dengan salah satu hewan paling megah di muka bumi ini.